Film adalah cermin masyarakat. Namun, jika kita melihat refleksi yang ditampilkan industri perfilman Indonesia selama ini, pertanyaannya adalah: sudahkah semua wajah terwakili secara adil? Kenyataannya, industri kita masih sering kali terasa eksklusif. Kelompok disabilitas, perempuan, dan minoritas masih menghadapi tembok tebal, mulai dari kesenjangan pendidikan hingga minimnya representasi karya yang menggugah empati sosial.
Di Inklusi Film Indonesia, bersama Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI), kami terus bergerak mengadvokasi pentingnya membangun ekosistem perfilman yang inklusif, harmonis, dan berkelanjutan. Ini bukan sekadar wacana, melainkan upaya menciptakan ruang setara bagi setiap individu untuk memiliki kesempatan yang sama dalam belajar, berkarya, dan terlibat dalam produksi tanpa diskriminasi.
Momentum nyata itu terekam jelas pada 18 April 2026 lalu. Melalui kolaborasi KCFI dan Asosiasi Konten Kreator Indonesia, kami menggelar “Workshop Perfilman Inklusif: Belajar Film dari Nol”. Di sana, saya hadir bukan untuk sekadar bicara teknis yang rumit, melainkan memotivasi hampir 80 peserta dari berbagai latar belakang baik disabilitas maupun non-disabilitas tentang bagaimana memulai sebuah ide cerita, menjaganya agar tetap konsisten, hingga menuangkannya ke dalam sinopsis dan memahami urutan proses produksi yang sesungguhnya.
Pemandangan di ruang workshop sungguh luar biasa. Mereka membaur tanpa rasa minder. Ada momen menarik ketika peserta non-disabilitas sempat bingung saat harus berkomunikasi dengan rekan tuli. Namun, kebingungan itu segera pecah menjadi tawa dan sukacita saat salah satu peserta tuli mulai mengajarkan abjad isyarat. Dengan antusias, peserta dengar mengikutinya. Inilah esensi kolaborasi dan kesetaraan yang sesungguhnya: mereka tidak butuh belas kasihan, yang mereka butuhkan adalah ruang, akses, dan kebersamaan untuk saling menghargai.
Lima Pilar Utama Perfilman Inklusi
Untuk menjaga keberlanjutan ekosistem ini, kami berpijak pada lima pilar fundamental:
- Aksesibilitas: Menyediakan fasilitas ramah disabilitas di lokasi syuting dan layanan sensorik (teks dan narasi audio) pada setiap karya.
- Kesetaraan: Menjamin rekrutmen yang adil dan membuka pintu pendidikan film seluas-luasnya.
- Representasi Positif: Menghadirkan karakter disabilitas sebagai manusia utuh tanpa stigma, mencerminkan keragaman sosial Indonesia.
- Kolaborasi: Membangun sinergi lintas komunitas, seperti yang kami lakukan bersama KCFI . inklusi Film dan asosiasi profesi.
- Edukasi: Melalui pelatihan dan motivasi untuk melahirkan sineas baru yang berjiwa sosial dan berdaya.
Menuju Masa Depan yang Setara
Di tahun 2026 ini, kita mulai melihat perubahan paradigma. Para filmmaker kini mulai berani melibatkan langsung kawan-kawan disabilitas untuk memerankan karakter sesuai tuntutan skenario. Dokumentasi di balik layar (behind the scenes) kini dipenuhi dengan interaksi yang memanusiakan. Saya berharap sekolah-sekolah akting mulai mengikuti jejak ini, melibatkan disabilitas secara aktif untuk mendapatkan pendidikan dan apresiasi seni yang layak.
Ke depan, kita membutuhkan kebijakan nasional dan sebuah kerja keras para praktisi perfilman dan pegiat disabilitas dalam merumuskna sebuah buku Buku Panduan Perfilman Inklusif sebagai pedoman produksi, yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk peluncurannya, di harapkan di hari disabilitas internasional tanggal 3 Desember 2026, buku tsb sudah bias di luncurkan di di perbanyak untuk di pergunakan oleh pelaku perfilman dan pegiatn disabilita yang minat dalam bidang perfilman . Kita ingin mengubah paradigma industri dari eksklusif menjadi kolaboratif, di mana filantropi dan semangat berbagi menjadi mesin penggeraknya.
Pada akhirnya, keterlibatan disabilitas dalam film bukan hanya tentang siapa yang berada di depan kamera, tapi tentang siapa yang diberi ruang untuk bercerita. Dengan ekosistem yang inklusif dan harmonis, kita tidak hanya memajukan industri, tetapi juga sedang merajut kemanusiaan melalui film.
Mari kita pastikan, film Indonesia benar-benar menjadi milik semua orang.
Berikan ruang dan akses serta kesetaraan, bukan belas kasihan !
Salam inklusi.
Oleh: Budi Sumarno (Praktisi Perfilman & Founder Inklusi Film Indonesia)
